Tiga tahun lalu, seorang pria pindah ke kota baru untuk bekerja dan menetap di sebuah rumah dengan kolam renang serta jalur lari. Awalnya, ia hampir tidak berinteraksi dengan tetangga hingga dua wanita, calon istrinya Kim dan adiknya Lisa, mengetuk pintu rumahnya tak lama setelah ia pulang dari lari. Kedua saudari itu mengundangnya ke acara barbekyu 4 Juli, dan ia pun dengan enggan ikut. Kim mendominasi percakapan, mengajukan pertanyaan pribadi sementara ia menjawab dengan sopan. Dalam beberapa bulan berikutnya, ia sering melihat Kim di toko bahan makanan dan kedai kopi, selalu memulai obrolan ringan. Suatu hari, saat ia berlari di jalur setapak lingkungan, Kim memanggilnya dan mengaku kehilangan ponsel. Ia meminta pria itu untuk berjalan bersamanya sambil mencari ponsel tersebut, dan setelah menemukannya, Kim mengucapkan terima kasih dengan mengundangnya makan siang. Kesamaan minat mereka akhirnya membawa mereka pada hubungan asmara, dan akhirnya pertunangan.
Hubungan mereka berjalan mulus hingga sebuah acara baru-baru ini mengungkapkan detail yang mengganggu. Teman Kim, yang baru saja mengalami pengkhianatan dari mantan pacarnya, bercanda tentang perlu "mulai menguntit pria baik." Kim menanggapi dengan menawarkan untuk mengajarinya "cara menguntit untuk mendapatkan pria 101," dengan bercanda menjelaskan bagaimana melacak jadwal pasangan. Komentar itu terasa lebih dari sekadar lelucon, terutama karena ia kini mengingat kehadiran Kim yang selalu ada dalam hidupnya sebelum mereka berpacaran. Ia tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa interaksi awal Kim bukanlah kebetulan, melainkan sesuatu yang telah direncanakan.
Realisasi itu membuatnya mempertanyakan apakah niat Kim benar-benar tulus. Apakah Kim telah mengamatinya jauh sebelum mereka pertama kali berbicara? Waktu kemunculannya, baik di rumahnya, rute lari rutinnya, maupun tempat-tempat lokal, terasa disengaja. Ia bertanya-tanya apakah rasa ingin tahu Kim tentang status hubungannya saat pertemuan pertama merupakan bagian dari pola yang lebih besar. Semakin ia memikirkannya, semakin kabur garis antara kebetulan dan perencanaan.
Ia berjuang untuk mencari cara mengungkapkan ketidaknyamanannya tanpa langsung menuduhnya. Menghadapinya secara langsung mungkin membuatnya terlihat terlalu sensitif, tetapi diam saja terasa seperti menyimpan kekhawatirannya. Ia mempertimbangkan apakah perilaku masa lalu Kim hanyalah eksentrik yang tidak berbahaya atau sesuatu yang lebih jahat. Gagasan bahwa seseorang yang ia percayai mungkin telah mempelajarinya tanpa sepengetahuannya sangat mengganggu.
Ia memutar ulang interaksi awal mereka, mencari tanda-tanda yang luput dari perhatiannya. Apakah pertanyaan-pertanyaannya hanya basa-basi tak berarti, ataukah ia sedang mengumpulkan informasi? Semakin ia menganalisis, semakin ia mempertanyakan pondasi hubungan mereka. Kepercayaan, yang dulu terasa pasti, kini terasa rapuh. Ia tidak bisa berhenti bertanya-tanya apakah cinta Kim dibangun di atas dasar yang bukan saling menghormati.
Situasi ini memaksanya untuk menghadapi kebenaran yang pahit: cinta tidak menghapus masa lalu. Meski tindakan Kim mungkin tidak berbahaya, pengetahuan itu telah mengubah cara ia memandang sejarah mereka. Ia merasa dirinya menjauh, bukan karena marah, tetapi demi menjaga diri. Cincin pertunangan di jarinya tiba-tiba terasa lebih berat, simbol masa depan yang tidak pasti ia ingin ambil.
Ia tahu ia tidak bisa terus mengabaikan masalah ini. Entah ia memilih untuk berbicara dengannya atau pergi, satu pertanyaan tetap ada: bisakah ia benar-benar mempercayai seseorang yang kehadirannya dalam hidupnya terasa seperti gerakan yang telah direncanakan? Jawaban itu tidak hanya akan menentukan hubungan mereka, tetapi juga rasa aman dirinya sendiri.
Apa yang akan Anda lakukan jika Anda menemukan perilaku masa lalu pasangan terasa lebih seperti pengejaran daripada kebetulan?