Pertama kali dia menyadari perasaan berbeda terhadap Damian, itu hanya kilasan singkat. Mereka selalu dekat dengan Daisy, tapi sesuatu berubah di dalam garasi yang sunyi itu. Saat dia mendekat untuk berbagi gosip, tiba-tiba nada suaranya, warna matanya, bahkan cara otot lengannya menegang di balik kemeja menjadi tak terabaikan. Dia selalu menghargai Daisy dengan sangat dalam, mengagumi kesetiaan dan kehangatannya, dan bayangan mengkhianati kepercayaan itu terasa seperti menelan pecahan kaca. Namun, perasaan itu tak mau hilang. Ia melekat seperti kulit kedua, membuatnya sulit menatap Damian tanpa perutnya terasa melilit. Dia mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya ketertarikan sesaat, sesuatu yang tak berbahaya dan akan pudar seiring waktu. Tapi minggu berlalu, dan perasaan itu justru semakin kuat, membuatnya terperangkap dalam siklus rasa bersalah dan kerinduan yang tak bisa dia lepaskan.
Semuanya dimulai dengan tidak berbahaya. Damian dan Daisy telah bersama hampir setahun, dan dia sangat menyayangi keduanya. Daisy adalah tipe teman yang merencanakan pesta kejutan untuk promosi dan memadupadankan outfit, orang yang membuatmu merasa dilihat dan dihargai. Damian, di sisi lain, memiliki cara membuatnya merasa nyaman, bahkan saat dia cenderung sinis. Mereka terikat oleh hobi dan pandangan hidup yang sama, dan segera, kumpul-kumpul mereka semakin sering. Awalnya, itu hanya dua teman yang menikmati minat yang sama, tak lebih. Tapi kemudian, garis itu mulai kabur. Momen-momen kecil mulai terasa penuh muatan, seperti saat dia mendekat untuk berbagi gosip di garasi Damian. Momen itu mengubah segalanya. Dia merasakan perubahan dalam dirinya, sekawanan kupu-kupu beterbangan di dadanya, dan dia tahu dirinya sudah memasuki wilayah berbahaya.
Sadar akan perasaannya datang bagai kereta api yang melaju kencang. Dia tak lagi sekadar mengagumi Damian; dia mulai jatuh cinta padanya. Rasa bersalah yang menyusul begitu menyiksa. Bagaimana dia bisa mengkhianati sahabatnya seperti ini? Dia menghargai Daisy lebih dari hampir siapa pun, dan bayangan menyakitinya membuatnya merasa sakit fisik. Dia mencoba merasionalkan perasaannya, meyakinkan diri bahwa ini hanya cinta sesaat yang bisa dia lupakan. Tapi semakin dia mencoba menepis perasaan itu, semakin kuatlah perasaan itu melekat. Dia mulai menyadari Damian di mana-mana, cara tawanya memenuhi ruangan, cara tangannya bergerak saat berbicara. Seolah-olah otaknya tiba-tiba memprogram ulang untuk melihatnya dengan cara baru, dan dia tak bisa lagi tidak melihatnya.
What if this is your story too?
Share your situation and let us help you understand more.
Dia mengambil langkah drastis untuk menjauh, menghindari Damian sepenuhnya dan hanya bertemu dengannya di acara kelompok besar. Saat Damian bertanya ke mana dia pergi, dia berbohong, mengatakan sedang sibuk. Tapi kenyataannya jauh lebih rumit. Dia tenggelam dalam lautan rasa bersalah dan kerinduan, dan setiap kali melihat wajah Daisy menyala saat menyebut nama Damian, rasanya seperti pisau menusuk dadanya. Dia tak pernah menginginkan pria yang sudah punya pasangan sebelumnya, dan kenyataan itu membuatnya merasa jijik. Bagaimana dia bisa begitu egois? Begitu tak setia? Rasa malu itu begitu luar biasa, sampai-sampai dia mempertanyakan moralitasnya sendiri. Apakah dia benar-benar tipe orang yang tega mengkhianati sahabat terdekatnya demi perasaan sesaat?
Rasa cemburu merayap perlahan, seperti bayangan yang memanjang di lantai. Dia membenci dirinya sendiri karenanya, tapi tak bisa menahan bagaimana hatinya terasa tercekat setiap kali Daisy menyebut nama Damian. Dia mulai menganalisis hubungan mereka, mencari-cari kekurangan, tanda-tanda bahwa Daisy tak layak untuk Damian. Itu beracun dan tak adil, dan dia tahu itu. Tapi perasaan itu terlalu kuat untuk diabaikan. Dia mencoba mengingatkan dirinya sendiri akan semua alasan mengapa ini salah, mengapa dia harus melepaskan. Tapi, seperti kata pepatah, hati mau apa yang diinginkannya, dan hatinya keras kepala menolak untuk patuh.
Dia mempertimbangkan untuk bercerita kepada seseorang, mungkin teman lain atau seorang terapis, tapi rasa malu membuatnya diam. Dia tak ingin dinilai, tak ingin dilihat sebagai penjahat dalam cerita ini. Jadi dia menyimpan perasaan itu rapat-rapat, sebuah rahasia yang dibawanya seperti beban berat. Dia mencoba fokus pada hal lain, pada hobinya dan persahabatannya, tapi Damian selalu ada, mengintai di belakang pikirannya. Dia menangkap dirinya sendiri melamun tentang Damian, membayangkan seperti apa rasanya bersamanya, berbagi hidup dengannya. Lalu rasa bersalah itu datang bagai gelombang, mengingatkannya pada pengkhianatan yang dia pertimbangkan.
Dia tahu dia harus membuat pilihan. Entah dia harus melepaskan perasaan ini dan melanjutkan hidup, atau menghadapinya secara langsung dan menerima konsekuensinya. Tapi bayangan kehilangan Daisy, mengkhianati kepercayaannya, terlalu berat untuk ditanggung. Dia tak bisa membayangkan dunia di mana sahabatnya akan memaafkannya, dan gagasan hidup dengan penyesalan seperti itu tak tertahankan. Jadi dia terus menjaga jarak, menyimpan perasaan itu jauh di dalam, dan berharap waktu akan meredakan sakit di hatinya. Tapi dalam hati kecilnya, dia tahu cinta tak bekerja seperti itu. Cinta tak hanya pudar karena kamu memaksanya. Ia tetap ada, pengingat konstan akan pilihan yang belum dia buat.
Saat dia berbaring di tempat tidur di malam hari, menatap langit-langit, dia bertanya-tanya apakah dia akan pernah bisa menatap mata Damian lagi tanpa merasakan kerinduan yang menusuk. Dia bertanya-tanya apakah Daisy akan pernah menyadari perubahan dinamika di antara mereka, apakah ketegangan tak terucap di antara mereka akan pernah terlalu berat untuk diabaikan. Dan yang terpenting, dia bertanya-tanya apakah dia akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri atas perasaan yang tak bisa dia kendalikan. Pertanyaan yang paling menghantuinya adalah ini: jika cinta bisa terasa begitu tak terelakkan, bagaimana kamu memilih antara orang yang kamu cintai dan orang yang selalu kamu cintai?