Foto-foto liburan keluarga seharusnya menjadi kenangan indah penuh tawa dan kebersamaan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Setiap kali ia menoleh, selalu ada pemandangan yang membuatnya tidak nyaman: setengah bokong pacar anaknya terlihat dari celana pendek yang nyaris tak layak disebut pakaian, atau atasan ketat dengan tali spageti yang tipis seolah-olah terbuat dari udara.
Hal itu tidak hanya terjadi di tempat sewa pantai yang memang mengharuskan baju renang. Ia juga melihatnya di kota, saat berbelanja, minum kopi, atau berjalan-jalan di antara toko-toko. Di tempat-tempat inilah, keluarga lain, termasuk mertuanya, merasa wajah mereka memerah karena malu yang tak terucapkan.
Ia tidak menentang atasan ketat atau celana pendek secara prinsip; ia sendiri kadang memakainya. Namun, pakaian yang dikenakan pacar anaknya bukanlah jenis pakaian yang menyeimbangkan gaya dengan pertimbangan terhadap orang lain. Ia terus bertanya-tanya: apakah ia terlalu reaktif? Apakah ini hanya perbedaan generasi, cara pandang tentang kesopanan antara dirinya dan generasi anaknya?
Kekhawatiran itu terus menggerogoti hatinya. Bagaimana jika mertuanya, yang sudah kritis terhadap liburan mereka, menggunakan hal ini sebagai alasan lain untuk menolak perjalanan ini? Bagaimana jika pacar anaknya merasa dihakimi, atau yang lebih buruk, ia sama sekali tidak peduli? Ketegangan itu terasa berat di perutnya, tak terpecahkan, terutama karena liburan berikutnya sudah dipesan dan dibayar.
Ia menginginkan keharmonisan, bukan pertengkaran, tetapi keharmonisan terasa mustahil ketika setiap pilihan pakaian seolah-olah memancarkan ketidaknyamanan bagi semua orang di sekitarnya. Ia terus memutar ulang percakapan dalam benaknya, mencari kata-kata yang tepat yang tidak terdengar seperti kritik tetapi tetap menyampaikan maksudnya.
Mungkin ini bukan tentang pakaian itu sendiri. Mungkin ini tentang rasa hormat, hormat kepada keluarga yang dicintainya, hormat kepada ruang bersama yang mereka tempati, hormat kepada aturan tak tertulis tentang kebersamaan. Namun, bagaimana cara meminta seseorang untuk berubah dalam hal yang begitu pribadi tanpa membuatnya merasa diserang?
Ia tidak ingin mengatur tubuh atau gaya siapa pun. Ia hanya ingin masuk ke toko atau duduk di kafe tanpa merasa perlu meminta maaf atas pilihan orang lain. Dilema ini bukan hanya tentang pakaian. Ini tentang rasa memiliki, tentang apakah cinta bisa melampaui batasan tanpa memecah belah.
Ia terus kembali pada satu pertanyaan: jika ia diam saja, akankah kebencian itu mengendap? Dan jika ia berbicara, akankah itu memecah kedamaian yang sudah mereka bangun? Ia tidak memiliki jawaban, hanya perasaan semakin kuat bahwa liburan ini sudah rusak sebelum dimulai, bukan oleh tujuan, melainkan oleh beban apa yang tidak terucapkan.