Pesan itu datang tiba-tiba. "Aku sangat menyukaimu," katanya. "Tapi aku hanya bisa menjalani hubungan teman dengan manfaat." Kata-kata itu menggantung di udara di antara mereka, sarat dengan ketegangan yang tak terucapkan.
Mereka sudah saling mengenal selama berbulan-bulan, semakin dekat, dan ia mulai mengembangkan perasaan yang tak pernah direncanakannya. Bayangan untuk tidur dengannya membuat hatinya berdebar, tetapi ketakutan akan dampaknya justru lebih kuat. Ia pernah berada dalam situasi serupa di masa lalu, di mana keintiman fisik mengaburkan batasan, membuatnya lebih terikat dari yang ia inginkan. Dan ia tahu, dalam hati, bahwa kali ini tak akan berbeda.
Mereka bertemu melalui teman bersama, dan hubungan mereka langsung terjalin. Ia lucu, baik hati, dan jenis orang yang membuatnya merasa diperhatikan dengan cara yang tak pernah ia harapkan. Ia mulai membayangkan masa depan bersamanya, meski belum mengakuinya pada dirinya sendiri. Tetapi saat ia menyebutkan hubungan teman dengan manfaat, segalanya berubah. Ia bisa merasakan tembok-tembok mulai dibangun, ketakutan merayap masuk. Ia tak ingin hanya menjadi seseorang yang ia gunakan untuk seks. Ia tak ingin terbangun suatu hari nanti dan menyadari bahwa ia telah memberikan hatinya sementara ia menjaga jarak.
Ia ragu, lalu mengatakan bahwa ia tak yakin. Malam itu, ia berbaring di tempat tidur, pikirannya berkecamuk. Ia memikirkan cara ia membuatnya tertawa, cara ia mendengarkannya bicara, cara ia membuatnya merasa penting. Ia memikirkan ketertarikan fisik, cara tubuhnya bereaksi terhadap sentuhannya. Tetapi ia juga memikirkan sakit hati yang pasti akan datang jika ia membiarkan dirinya jatuh cinta padanya. Ia pernah melihatnya sebelumnya. Bagaimana hubungan teman dengan manfaat bisa berubah menjadi perangkap emosional, bagaimana perasaan satu orang bisa tumbuh lebih besar tanpa peringatan.
Ia tak bisa mengambil risiko itu. Bukan dengan dia. Bukan saat ia sudah jelas tak mencari lebih dari itu.
Keesokan harinya, ia membalas pesannya. "Aku rasa aku tak bisa melakukan ini," katanya. "Aku terlalu menyukaimu." Ia berharap ia akan mengerti. Ia berharap ia akan menghormati batasannya. Tetapi justru, ia menarik diri. Percakapan mereka menjadi lebih singkat, jarang terjadi. Hubungan yang mereka bangun mulai memudar, dan sekarang, berbulan-bulan kemudian, mereka bahkan tak lagi bicara.
Ia bertanya-tanya apakah ia telah membuat pilihan yang tepat. Mungkin ia seharusnya mengambil risiko itu. Mungkin ia seharusnya tidur dengannya dan menyelesaikannya, agar ia bisa melanjutkan hidup tanpa penyesalan. Tetapi semakin ia memikirkannya, semakin ia tahu bahwa ia telah melakukan hal yang benar. Meski sekarang terasa menyakitkan.
Ia meninggalkan pertanyaan, apakah cinta layak untuk dipertaruhkan ketika orang lain tak mau berusaha setengah-setengah. Jika seseorang tak bisa memberimu apa yang kamu butuhkan, apakah lebih baik pergi sekarang atau berharap ia akan berubah?