Pertama kali ia bertemu dengan Jill, situasinya santai dan tidak mencolok, di sebuah kafe. Mereka telah bersahabat sejak SMA, hampir lima belas tahun berbagi rahasia, candaan pribadi, dan ikatan yang terasa tak terpisahkan.
Pasangannya sering menyebutkan Jill. Mereka saling bercerita tentang segalanya, seolah saudara sendiri. Namun, baru-baru ini ia mulai memperhatikan bagaimana wajah pasangannya berseri-seri saat nama Jill muncul di layar ponselnya. Bukan karena cemburu, setidaknya belum. Lebih kepada rasa penasaran. Bagaimana mungkin seseorang bisa mempertahankan persahabatan sedalam itu selama bertahun-tahun, melewati karier, hubungan asmara, dan perubahan hidup? Apakah mungkin memiliki ikatan sedalam itu tanpa melampaui batas persahabatan?
Ia pernah mendengar peringatan itu sebelumnya. "Waspadai mereka yang memiliki sahabat seperti itu," kata orang-orang, seolah persahabatan jangka panjang itu selalu mencurigakan. Tapi Jill terlihat tak berbahaya, bahkan baik hati. Ia pernah mengirim pesan singkat kepada Jill hanya untuk menyapa, dan Jill membalas dengan hangat. Meski begitu, ada keraguan yang mengganggu pikirannya.
Apakah ini bukan tentang Jill sama sekali? Apakah ini tentang ketidakpastian dirinya sendiri, ketakutan bahwa tak ada yang bisa berbagi sejarah sedalam itu tanpa mengancam apa yang mereka miliki? Ia ingat saat pertama kali mengusulkan liburan akhir pekan berdua saja. Pasangannya ragu, lalu berkata bahwa Jill sedang mengalami masa sulit dan membutuhkan dukungan. Ia mengangguk, tapi penolakan itu terasa menyakitkan.
Bukan tentang Jill yang membutuhkan bantuan. Ini tentang perasaannya yang seolah dianggap nomor dua. Ia bertanya-tanya apakah kehadiran Jill dalam hidup pasangannya adalah sebuah kenyamanan, sebuah jaring pengaman yang tak bisa dibayangkan untuk ditinggalkan. Mungkin itu hal yang wajar. Mungkin persahabatan seperti itu memang sehat.
Tapi bagaimana cara tahu kapan persahabatan itu berhenti menjadi persahabatan biasa? Bagaimana cara memintanya untuk memprioritaskan diri tanpa terdengar posesif atau tidak percaya? Ia terus memutar ulang percakapan mereka, mencari cara untuk membahas topik ini tanpa terdengar seperti tuduhan.
Mungkin ini bukan tentang kontrol. Mungkin ini tentang kepercayaan. Mungkin ia perlu percaya bahwa cinta bisa hidup berdampingan dengan persahabatan yang dalam dan bermakna di luar hubungan mereka. Tapi keraguan itu tetap ada, suara kecil di belakang pikirannya bertanya: jika ia tak bisa membayangkan hidup tanpa Jill, di mana posisinya nanti?